Wednesday, April 26, 2017

Kesedihan Awal Lunturnya Keimanan

Kesedihan adalah peluang yang sangat luas bagi kecemasan untuk datang menghampiri. Bahkan bisa dikatakan bahwa kesedihan merupakan awal dari kecemasan itu sendiri. Karena kesedihan akan menuntun kita kepada sikap untuk tidak mau melakukan kegiatan yang baru serta selalu pesimis dengan kehidupan yang sedang atau akan dijalani. Oleh sebab itu dalam Al-Qur`an Allah memerintahkan kepada setiap hambanya agar tidak bersedih;

”Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) bersedih hati, kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali-`Imran [3]:139).

Kesedihan itu sendiri adalah suatu sikap yang dapat membuat hidup menjadi keruh. Kesedihan menjadikan hidup kita tidak jernih dan tidak bermakna. Kesedihan akan menyebabkan kita lemah, tak bergairah dalam menjalani kehidupan. Kesedihan apabila dibiarkan akan menuntun kita pada fase melupakan kebaikan, tidak peduli kepada kebajikan, tidak mau mencegah kepada yang mungkar, tidak peduli atau tidak memiliki semangat untuk mencapai kebahagiaan serta terus larut di dalam kebinasaan. Ini merupakan suatu perbuatan yang sangat merugikan dan berdampak burk bagi diri sendiri, bahkan bagi orang lain dan lingkungan sekitar.

Jika selama ini kita menderita oleh bermacam cobaan yang tak kunjung reda, sehingga menghantarkan kita kepada jurang kesedihan, maka ingatkan  diri kita bahwa Allah sayang sama kita.Kita harus terus ikhlas dan berusaha sabar dalam menghadapinya, maka kenikmatan surga yang abadi akan setia menanti kita. Sedangkan sebaliknya, apabila kita tidak ikhlas dengan kenyataan dan tidak sabar dalam menghadai cobaan, niscaya kesengsaraan bahkan neraka yang kekal akan menunggu kita diakhirat kelak. Bahkan didunia juga tidak akan merasa tenang hidupnya, susah untuk menadapat nikmat dari Allah dan akan terus terbelit kesedihan.

Kesedihan hanya akan memadamkan api semangat dan gairah. Kesedihan itu layaknya penyakit yang menggerogoti seluruh tubuh dan membuatnya lemas serta tidak berdaya. Karena kesedihan itu hanya akan membawa energi negatif, ia akan membawa daya yang menghentikan semangat dan bukan membangkitkan semangat. Dan tentunya semua hal itu bukanlah suatu yang berfaedah bagi diri terutama bagi hati. Sesungguhnya orang yang berlarut-larut dalam kesedihan ia orang yang akan merugi dalam hidupnya.

Metakkan hati sesuai pada tempatnya dan senantiasa bersabar dealam menghadapi cobaan, InsyaAllah hal-hal yang dikhawatirkan tidak akan pernah terjadi. Selain itu sadarlah bahwa ada kesedihan yang baik, seperti halnya seorang hamba yang bersedih dikarenakan merasa bahwa kedekatan dan penghambaannya kepada Allah sangatlah sedikit, ini menandakan bahwa hatinya masih tetap hidup dan terbuka lebar untuk menerima hidayah-Nya. Kesedihan yang demikian sangat baik karena kedepannya akan membawa seseorang untuk segera bertobat dan tidak ingin kembali kedalam kesalahan yang pernah dibuatnya serta senantiasa  berusaha untuk memperbaiki dan mengerjakan apa yang menjadi kewajibanya. Sehingga pada akhirnya nanti akan kembali lahir orang-orang yang memiliki kekuatan iman dan Islam. Dengan kata lain, jika kita dapat membedakan dan memenej sebuah kesedihan dengan benar maka ia akan menjadi tambahan kebajikan dan sarana untuk mensucikan diri.

Jangan pernah bersedih dengan beberapa kekurangan yang dimiliki. Para sahabat dan para alim ulama juga pernah mengalami perjalan kehidupan yang penuh cobaan dan ujian yang begitu dahsyatnya, bahkan hingga nyawa sebagai taruhannya. Seperti halnya yang dialami Saidina Umar bin khatab yang dilumuri oleh darahnya sendiri, Saidina Ustman yang di bunuh secara diam-diam dan saidina Ali yang ditikam dari belakang, serta masih banyak lagi kisah para alim ulama yang harus menerima hinaan, cacian, siksaan dan cobaan yang datang silih berganti. Ini semua mengisyaratkan bahwa harga diri dan kebahagiaan tidak diukur oleh status dan kepemilikan tetapi lebih kepada keikhlasan.


Maka dari itu, janganlah pernah bersedih dengan kondisi fisik, harta yang sedikit dan rumah yang tidak megah, karena pada hakikatnya semua itu adalah titipan Allah semata kepada kita yang kelak di yaumil akhir akan di pinta pertanggung jawabannya satu persatu. Atas dasar itulah mari saudaraku seiman, janganlah bersedih karena kita masih memiliki agama yang kita yakini dan tuntunan yang benar yaitu Al-Qur`an dan Al-Hadist. Marilah kita senantiasa gembira dan berlapang dada. Tersenyumlah dan jangan lupa memohon serta mengadulah hanya kepada Allah SWT semata agar selama hidup di dunia ini selalu diberikan kebaikan, sifat terpuji dan diridhoi.Kepada-Nya kita memohon diberikan kejernihan hati dan kelapangan pikiran. Kepada Allah lah satu-satunya dzat yang patut kita mohon pertolongan agar senantiasa melapangkan hati kita dengan cahaya iman. 

No comments: