Kesedihan adalah peluang yang sangat luas bagi
kecemasan untuk datang menghampiri. Bahkan bisa dikatakan bahwa kesedihan
merupakan awal dari kecemasan itu sendiri. Karena kesedihan akan menuntun kita
kepada sikap untuk tidak mau melakukan kegiatan yang baru serta selalu pesimis
dengan kehidupan yang sedang atau akan dijalani. Oleh sebab itu dalam Al-Qur`an
Allah memerintahkan kepada setiap hambanya agar tidak bersedih;
”Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan
(pula) bersedih hati, kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika
kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali-`Imran [3]:139).
Kesedihan itu sendiri adalah suatu sikap yang
dapat membuat hidup menjadi keruh. Kesedihan menjadikan hidup kita tidak jernih
dan tidak bermakna. Kesedihan akan menyebabkan kita lemah, tak bergairah dalam
menjalani kehidupan. Kesedihan apabila dibiarkan akan menuntun kita pada fase
melupakan kebaikan, tidak peduli kepada kebajikan, tidak mau mencegah kepada
yang mungkar, tidak peduli atau tidak memiliki semangat untuk mencapai
kebahagiaan serta terus larut di dalam kebinasaan. Ini merupakan suatu
perbuatan yang sangat merugikan dan berdampak burk bagi diri sendiri, bahkan
bagi orang lain dan lingkungan sekitar.
Jika selama ini kita menderita oleh bermacam
cobaan yang tak kunjung reda, sehingga menghantarkan kita kepada jurang
kesedihan, maka ingatkan diri kita bahwa
Allah sayang sama kita.Kita harus terus ikhlas dan berusaha sabar dalam menghadapinya,
maka kenikmatan surga yang abadi akan setia menanti kita. Sedangkan sebaliknya,
apabila kita tidak ikhlas dengan kenyataan dan tidak sabar dalam menghadai
cobaan, niscaya kesengsaraan bahkan neraka yang kekal akan menunggu kita
diakhirat kelak. Bahkan didunia juga tidak akan merasa tenang hidupnya, susah
untuk menadapat nikmat dari Allah dan akan terus terbelit kesedihan.
Metakkan hati sesuai pada tempatnya dan
senantiasa bersabar dealam menghadapi cobaan, InsyaAllah hal-hal yang
dikhawatirkan tidak akan pernah terjadi. Selain itu sadarlah bahwa ada
kesedihan yang baik, seperti halnya seorang hamba yang bersedih dikarenakan
merasa bahwa kedekatan dan penghambaannya kepada Allah sangatlah sedikit, ini
menandakan bahwa hatinya masih tetap hidup dan terbuka lebar untuk menerima hidayah-Nya.
Kesedihan yang demikian sangat baik karena kedepannya akan membawa seseorang
untuk segera bertobat dan tidak ingin kembali kedalam kesalahan yang pernah
dibuatnya serta senantiasa berusaha
untuk memperbaiki dan mengerjakan apa yang menjadi kewajibanya. Sehingga pada
akhirnya nanti akan kembali lahir orang-orang yang memiliki kekuatan iman dan
Islam. Dengan kata lain, jika kita dapat membedakan dan memenej sebuah
kesedihan dengan benar maka ia akan menjadi tambahan kebajikan dan sarana untuk
mensucikan diri.
Jangan pernah bersedih dengan beberapa
kekurangan yang dimiliki. Para sahabat dan para alim ulama juga pernah
mengalami perjalan kehidupan yang penuh cobaan dan ujian yang begitu dahsyatnya,
bahkan hingga nyawa sebagai taruhannya. Seperti halnya yang dialami Saidina
Umar bin khatab yang dilumuri oleh darahnya sendiri, Saidina Ustman yang di
bunuh secara diam-diam dan saidina Ali yang ditikam dari belakang, serta masih
banyak lagi kisah para alim ulama yang harus menerima hinaan, cacian, siksaan
dan cobaan yang datang silih berganti. Ini semua mengisyaratkan bahwa harga
diri dan kebahagiaan tidak diukur oleh status dan kepemilikan tetapi lebih
kepada keikhlasan.
Maka dari itu, janganlah pernah bersedih dengan
kondisi fisik, harta yang sedikit dan rumah yang tidak megah, karena pada
hakikatnya semua itu adalah titipan Allah semata kepada kita yang kelak di
yaumil akhir akan di pinta pertanggung jawabannya satu persatu. Atas dasar
itulah mari saudaraku seiman, janganlah bersedih karena kita masih memiliki
agama yang kita yakini dan tuntunan yang benar yaitu Al-Qur`an dan Al-Hadist.
Marilah kita senantiasa gembira dan berlapang dada. Tersenyumlah dan jangan
lupa memohon serta mengadulah hanya kepada Allah SWT semata agar selama hidup
di dunia ini selalu diberikan kebaikan, sifat terpuji dan diridhoi.Kepada-Nya
kita memohon diberikan kejernihan hati dan kelapangan pikiran. Kepada Allah lah
satu-satunya dzat yang patut kita mohon pertolongan agar senantiasa melapangkan
hati kita dengan cahaya iman.

No comments:
Post a Comment